KOMUNIKASI DENGAN ANAK, SOLUSI ATASI MASALAH REMAJA

Komunikasi dengan Anak, Solusi Atasi Masalah Remaja
Kamis, 24 Jun 2010 21:02:23

Pdpersi, Jakarta – Masa remaja seperti dikatakan para filosof sebagai suatu masa yang penuh gejolak dan gairah. Masa peralihan dari anak-anak ke dewasa ini ditandai perubahan fisik dan juga psikoseksual.

Perubahan fisik berupa produksi hormon lelaki dan hormon perempuan serta pematangan alat kelamin. Sedangkan perubahan psikoseksual berupa dorongan seks serta orientasi seks.

Dr Meitha Damayanti SpA (K) Mkes, Ketua Satuan Tugas Remaja Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan bahwa pada masa remaja juga terdapat perubahan kognitif dan kepribadian. Dan yang lebih abstrak adalah perubahan yang bersifat konseptual, perkembangan moral, serta perubahan etika mengenai kemanusiaan, ilmu pengetahuan dan agama.

Masalah-masalah pada remaja, menurut dr Meitha, dapat digolongkan menjadi masalah fisik dan masalah perilaku psikososial, baik di rumah, sekolah, di jalan, dan di tempat-tempat lain. Masalah fisik seperti masalah gizi, penyakit menular, kecelakaan, cedera, hingga kesehatan reproduksi.

Sementara itu, masalah perilaku bersumber dari dorongan biologis atau hormonal dan psikologis atau perkembangan emosional dan sosial. Masalah-masalah ini menimbulkan keberanian melakukan perilaku berisiko tinggi, secara perorangan atau berkelompok, misalnya merokok, ngebut, berkelahi, memakai narkotika dan zat adiktif lain, hubungan seksual pranikah, menikah muda, aborsi, serta mengundang risiko seperti tertular penyakit infeksi menular seksual dan lain-lain.

Dr Soedjatmiko SpA (K) Msi, ketua divisi tumbuh kembang dan pediatri sosial Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus sekretaris Satuan Tugas Imunisasi IDAI menjelaskan bahwa timbulnya remaja bermasalah karena keinginan remaja yang tidak sesuai dengan keinginan orang tua, guru, teman, aturan hukum, serta moral agama.

”Sebenarnya, hanya sebagian kecil remaja bermasalah,” ujar dr Soedjatmiko dalam seminar masalah kesehatan remaja dalam rangka ulang tahun ke-56 IDAI diselenggarakan IDAI di Jakarta, kemarin.

Remaja bermasalah tersebut dapat memengaruhi remaja lain yang niat serta tekadnya kurang kuat. Sebab, lanjut dr Soedjatmiko, memang pada masa remaja tekanan dan tarikan kelompok (peer group) lebih kuat ketimbang pengaruh orang tua atau sekolah.

Penanganan masalah-masalah pada remaja membutuhkan pemahaman terhadap keinginan dan perilaku remaja. Caranya bisa dengan komunikasi, dialog dan advokasi terus menerus antara remaja itu sendiri, orang tua, pendidik, dokter, psikolog, ulama, penegak hukum, pemerintah, media, hingga masyarakat. Dengan cara-cara itu diharapkan akan tercapai remaja Indonesia sehat, cerdas, kreatif, dan berperilaku baik, yang akan siap mengikuti pendidikan yang lebih tinggi, menjadi pekerja, orang tua, dan anggota masyarakat yang bermutu.

Perihal kesehatan, para remaja cenderung sungkan untuk datang ke dokter spesialis anak guna mengutarakan masalah-masalah kesehatannya. Padahal, berdasarkan Undang-Undang No 23 Tahun 2002, yang dimaksud dengan anak adalah sejak janin sampai usia 18 tahun. ”Kesehatan remaja menjadi tanggung jawab para dokter spesialis anak,” ujar dr Badriul Hegar SpA (K), ketua umum IDAI.

Dr Badriul menjelaskan bahwa semua pihak bertanggung jawab mengawal masa remaja seorang anak, agar mereka dapat melalui periode tersebut dengan selamat baik fisik, psikologis, dan sosial karena mereka adalah masa depan bangsa.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: